//
you're reading...
UMUM

Seberapa Bergunakah Hidup Kita?

posted by: afien_4r

oleh: Muhammad Asrori, S.Kom

Bismillahirahmanirr ahim.
pada bagian pertama lalu, saya mengisahkan tentang sangat bergunanya diri rosulullah bagi orang lain terutama bagi orang kafir sekalipun. pada kesempatan ini mari kita berfikir sejanak sebarapa lamakah sebenarnya waktu kita yang benar-benar efektif untuk hidup ?

coba kita perhatikan hitung-hitungan sederhana sebagai berikut :

1. sendainya umur kita 63 tahun (patokan umur rosulullah, kita umatnya paling gak jauh he…… ini hanya perkiraaan.
2. sehari 24 jam
3. setahun 365 hari
4. kita beristirahat (tidur) kira 8 jam sehari.

jadi perhitungannya sebagai berikut :

8(waktu tidur) x 365 hari = 2920 jam

2920:24 = 121,6 hari (dalam setahun waktu kita gunakan hanya untuk tidur)

121,6 : 30 = 4,05 bulan (dalam setahun waktu kita gunakan hanya untuk tidur)

kalau perkiraan umur kita 63 tahun :

4,05 bulan x 63 tahun = 255,15 bulan
255,15 : 12 = 21,3 tahun

dengan perhitungan seperti di atas jadi kita tahu seper empat hidup kita hanya digunakan untuk tidur!!!!! Subhanallah, waktu yang terbuang dengan sia-sia.
itu waktu hanya untuk tidur, terus waktu yang kita buat cangkuruan, makan, gosip dll. masya Allah tinggal berapa waktu kita utuk berbuat baik?

wahai saudaraku semua mari kita merenung sejenak, mari kita manfaatkan waktu yang sedikit ini untuk berbuat yang lebih baik. ayo kita atur sisa waktu kita yang tinggal sedikit ini agar hidup ini lebih ber makna.

ayo kita berusaha menjadikan diri kita agar selalu berguna dan bermanfaat untuk orang lain, sebagai mana yang telah dicontohkan oleh kekasih kita rosulullah Muhammad SAW.

Semoga Allah SWT memudahkan rezeki kita dan meringankan tangan kita untuk berbagi terhadap sesama Amin… Amin….. Amin yarobbal’alamin.

“Jangan pipis dan e’e di lobang tanah yang kemungkinan
terdapat hewan hidup di dalamnya”.

Demikian salah satu etika buang air besar yang dibacakan Kyai
Achid, “Karena bisa jadi di dalam lobang itu terdapat
hewan yang lemah, akibatnya hewan tadi bisa terganggu dan
tersakiti. Atau mungkin di dalamnya terdapat hewan yang kuat,
maka kita yang justru akan tersakiti. Atau bisa jadi lobang
tersebut merupakan tempat tinggal Jin”.

Kyai Achid lalu mengutip Firman Allah Ta’ala dalam Surat
al-Anbiya ayat 107 yang bunyinya, “Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.”

Beliau menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang membawa
rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta,
termasuk hewan, tumbuhan dan jin. Dengan sedikit berkelakar
beliau berasumsi bahwa lobang tanah tadi dihuni oleh semut-semut.
“Di sore hari, semut yang masih a be ge mungkin sedang
asyik bercengkrama dan pacaran. Dan harap dipahami bahwa pacaran
dalam pandangan fiqh semut merupakan sebuah anjuran dan perbuatan
sunnah” tambah beliau. “Ketika mereka sedang
terlena dalam kemesraan dan hayalan tentang kehidupan keluarga
semut yang harmonis dan berbahagia, tiba-tiba ada guyuran air
kencing yang membanjiri mereka.”

Kyai Achid melanjutkan penjelasannya, “Atau ada sekelompok
anak-anak semut yang sedang berlari-larian, atau bermain petak
umpet misalnya, lalu tiba-tiba ada
longsoran kotoran manusia, dan mereka mati tertimbun di bawahnya.
Kalau hal ini terjadi akibat kesengajaan kita, maka bagaimana
kita membela diri di hadapan Allah Ta’ala Yang Maha Adil, ketika
semut-semut itu protes dan mengadukan kedzaliman ini
kepada-Nya?!”

“Memangnya binatang akan menuntut manusia di akhirat
nanti?” tanya kang Jamil

“Ya, setidaknya itu yang saya pahami dari sabda Rasulullah
sebagaimana yang terdapat dalam Hadis riwayat al-Imam al-Hakim,
Siapa yang dengan sewenang-wenang membunuh burung, atau hewan
lain yang lebih kecil darinya, maka Allah akan meminta
pertanggungjawaban kepadanya. Burung tersebut memiliki hak untuk
disembelih untuk kemudian dimakan, bukan dipotong lehernya untuk
kemudian dilempar.”

Dengan mimik wajah serius, kyai Achid melanjutkan penjelasannya,
“Islam menghormati hak binatang dan benda-benda. Dan
apapun bentuk kesewenang-wenangan dan kezhaliman terhadap hewan,
akan mendapat kecaman dari Agama. Misalnya sabda Rasulullah yang
menyatakan bahwa ada seorang wanita yang disiksa akibat kematian
seekor kucing yang dikurung tanpa diberi makan, hingga akhirnya
kucing itu mati karena kelaparan. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kang Jamil terperangah mendengar penjelasan kyai Achid.

“Dan masih dalam konteks menghormati hak hewan, Rasulullah
menyuruh kita menajamkan pisau yang akan digunakan menyembelih,
hal dimaksudkan agar hewan yang disembelih tidak terlalu lama
merasakan sakitnya penyembelihan. Sabda beliau, Ketika kalian
menyembelih (hewan ternak), maka perbaguslah penyembelihanmu, dan
hendaknya ia menajamkan pisaunya, dan buatlah hewan sembelihanmu
merasa ‘nyaman’. (HR. Muslim)”

“Semisal sampeyan hendak menyembelih lima ekor ayam, maka
hendaknya sampeyan tidak melakukan penyembelihan di depan
ayam-ayam yang masih hidup” Kyai Achid menambahkan.
“Lagian, kasihan ayam-ayam itu,” sahut kang Jamil,
“Mereka bisa mati duluan karena stress melihat
teman-temannya disembelih.”

“Nah, demikian itu sebagian penghormatan yang diberikan
Islam terhadap semut, burung, kucing, dan hewan-hewan lainnya.
Dan sesungguhnya masih banyak lagi hak-hak hewan yang dijaga dan
dipelihara oleh Islam, bahkan bukan hanya hewan, sikap
menghormati ini juga berlaku pada semua makhluk Allah Ta’ala,
termasuk tetumbuhan dan lainnya.” ujar kyai Achid yang
kemudian membaca ayat 56 Surat al-A’raf.

“Dan dibandingkan dengan perlakuan terhadap hewan dan
tetumbuhan, Islam lebih menghormati dan menghargai manusia.
Penghormatan ini dengan jelas dinyatakan Allah Ta’ala dalam
al-Quran Surat al-Isra ayat 70, “Dan sesungguhnya telah
Kami muliakan anak-anak Adam…”. Dan yang patut digaris
bawahi pada ayat ini, adalah bahwa penghormatan ini tidak
terbatas kepada orang-orang Islam, melainkan juga kepada mereka
yang tidak beragama Islam. Karena baik mereka yang beragama Islam
maupun mereka yang non muslim, kesemuanya merupakan “anak-anak
Adam”.

“Jadi, seharusnya kita menghormati semua orang, termasuk
mereka yang tidak seagama?” tanya kang Jamil.

“Ya, selama mereka bersikap baik kepada kita, maka kita
harus lebih baik dari mereka.” Jawab kyai Achid

artinya :

Dari Amirul Muminin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafii berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafii bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits :
Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah taala).

Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah taala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.
Seorang mu
min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinita s) adalah niat.
Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: