//
you're reading...
NASEHAT ISLAM

NASEHAT BAGI PENUNTUT ILMU UNTUK MENETAPI KEBENARAN DAN KESABARAN

Bag I

Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran dan juga saling mengingatkan antara kita semua karena memang orang muslim itu (memiliki sifat) saling menasehati, sedangkan sifat orang munafik saling mengkhianati. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda “Agama adalah nasehat, agama adalah nasehat, agama adalah nasehat.” Tamim Ad–Dari Rhadhiyallahu ‘anhu bertanya : “Wahai Rasulullah ! untuk siapa ?” Beliau menjawab : “Untuk Alloh, untuk RasulNya, untuk kitabNya, untuk para pemimpin kaum muslimin, dan untuk seluruh kaum muslimin.” Dalam rangka saling menasehati dan saling berwasiat, untuk menetapi kebenaran dan kesabaran adalah masalah ikhlas.

Ikhlas merupakan rahasia (diterimanya) ibadah. Kita sering melihat amalan seseorang yang begitu tekun, begitu bersungguh–sungguh, baik dalam mengeluarkan shadaqah atau pun infak akan tetapi itu semua jadi bumerang baginya (tidak mendapatkan pahala). Alloh Jalla Jalaluhu berfirman :“Artinya : Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al–Furqan : 23]

Setiap amalan yang tidak ikhlas, bukan saja amalan tersebut tidak bermanfaat bagi pelakunya tetapi juga menjadi bencana dan bahaya yang akan menimpa pelakunya. Alloh Ta’a la berfirman :

“Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya (dalam menjalankan agamaNya dengan lurus)” [Al–Bayyinah : 5]

Ikhlas merupakan cahaya yang memberikan petunjuk dan menyinari pelakunya menuju jalan keselamatan serta mendekatkan diri kepada Alloh Jalla jalaluhu.

Untuk mewujudkan keikhlasan membutuhkan ketekunan, kesabaran serta kesungguhan, sebab menanamkan keikhlasan bukanlah perkara yang mudah karena setan selalu mengawasi gerak–gerik manusia. Alloh Jalla Jalaluhu berfirman.

“Artinya : Iblis menjawab : “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba–hambaMu yang mukhis di antara mereka.” [As–Shad : 82–82]

Yang dinamakan mukhlis adalah orang yang dikokohkan keikhlasan dan kemurnian niatnya serta kesucian hatinya menuju Rabbul Bariyyah, Yang Maha Mulia dalam ketinggian serta Agung, berada di atas ‘Arsy). Alloh Jalla Jalaluhu berfirman :

“Artinya : Dan orang–orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami benar–benar akan tunjukkan jalan–jalan tersebut” [Al–Ankabut : 69]

Perjalanan hidup manusia dalam beramal, kadang kala diliputi oleh rasa ikhlas dan jujur untuk melawan tipu daya setan ; yang mana (setan) tersebut selalu menghiasi amalannya yang tidak ikhlas dibuat seperti amalan yang ikhlas.

Demikian juga sebaliknya kadang kala setan menghiasi amalan orang yang ikhlas dibuat seperti amalan orang yang tidak ikhlas sehingga membuat dia berhenti dari beramal dan tidak beristiqomah.

Oleh karena itu, orang yang benar–benar memiliki kejujuran (dalam beribadah) kepada Alloh Jalla Jalaluhu, akan tetapi konsisten dalam beramal dan mampu menghalau tipu daya setan dengan melawan kecenderungan hawa nafsunya yang selalu mengarah kepada kejelekan. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits qudsi, Alloh Jalla Jalaluhu berfirman

“Artinya : Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu terhadap diriKu [HR. Bukhari 7405 Muslim 6952 ; bersumber dari Abu Hurairah Rhadhiallahu ‘anhu]

Maka berprasangka baiklah kepada Alloh Jalla Jalaluhu dan peruntukkanlah semua amal kebaikanmu hanya kepada Alloh Jalla Jalaluhu semata. Perangilah was–was setan dan hawa nafsumu, niscaya Alloh Jalla Jalaluhu akan menolongmu.

Kedua
Berpegang teguh kepada Sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam yang suci lagi mulia” dan hal itu merupakan salah satu syarat diterimanya amal seorang hamba, karena amal tidak akan diterima kecuali memenuhi dua syarat, sebagaimana seekor burung tidak akan terbang kecuali dengan dua sayap.

Syarat yang pertama adalah Ikhlas adapun syarat kedua adalah ittiba’ (mengikuti Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam), kedua syarat tersebut merupakan wujud realisasi dari kalimat syahadah “Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah”

Adapun maknanya adalah “laa ma’buuda bihaqqin illalloh” (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh Jalaalahu) dan kalimat “Muhammad Rasulullah” adalah “Laa matbuu’a bihaqqin illa Rasulullah” (tidak ada seorang pun yang patut diikuti kecuali Rasulullah).

Alloh Jalla Jalahu berfirman ketika menyifati diriNya :

“Artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” [Al–Mulk : 2]

Berkata Fudhail Bin Iyadh : “Yang dimaksud dengan ‘ahsanu amalan’ adalah amalan yang paling ikhlas dan paling baik.” Mereka mengatakan : “Wahai Abu ‘Ali (ini merupakan kunyah beliau pada saat itu), apa yang dimaksud dengan amalan yang paling ikhlas dan paling baik ?” Beliau menjawab : “Amalan yang paling ikhlas adalah amalan yang diperuntukkan hanya kepada Alloh semata dan amalan yang paling baik adalah amalan yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah.”

Sunnah yang mulia ini merupakan petunjuk menuju jalan Alloh yang lurus. Bagaimana tidak ? Alloh telah mengaitkan hidayah seorang hamba yang ia selalu minta kepadaNya pada setiap siang dan malam tidak kurang dari 17 kali tatkala ia mengucapkan’ ihdinash shirotol mustaqim’ (tunjukilah kami kepada jalan yang lurus) maka Alloh telah mengaitkan bukti wujud hidayah seorang hamba dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam firmanNya :

“Artinya : Dan jika kalian menaatinya (Rasul) niscaya kalian akan mendapatkan hidayah” [An–Nur : 54]

Jika kalian mengikuti Sunnahnya, melaksanakan perintahnya dan menjadikannya sebagai suri tauladan maka kalian akan mendapatkan petunjuk dan keselamatan. Sungguh, Alloh telah berfirman dalam kitabNya :

“Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh” [Al–Ahzab : 21]

Oleh karena itu, Alloh mengaitkan bukti cinta terhadapNya dengan mencintai Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa salam dan mengaitkan seluruh kecintaan ini dalam bentuk mengikuti Sunnah Rasulullah. Alloh Jalla jalaluhu berfirman :

“Artinya : Jika kamu benar–benar mencintai Alloh maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mengasihimu” [Ali Imron : 1]

Inilah timbangan yang benar dalam hal kecintaan. Tidaklah bukti cinta kepada Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam hanya melibatkan perasaan semata, tanpa dibarengi dengan amalan yang benar serta ittiba’ yang kokoh.

Memang benar, cinta itu melibatkan perasaan dan harapan, akan tetapi seluruhnya tidak bernilai benar, kecuali dengan ber–qudwah dan mengikuti Rasululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam sepenuhnya, sehingga bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam merupakan wujud kecintaan kita kepada Alloh, sedangkan cinta kepada Nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam adalah dengan mengikuti Sunnahnya.

Ketiga., yaitu yang berkenaan dengan arti pentingnya ilmu, ini adalah perkara yang sangat fundamental dan mendasar sekali, bagaimana antusias kita dalam menuntutnya, mengamalkannya, serta mendakwahkannya.

Pada dasarnya, setiap hamba muslim adalah da’i menuju Alloh, sehingga seluruh kehidupannya dicurahkan untuk memurnikan keikhlasan kepada Alloh dan berittiba’ kepada Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam kesemuanya itu tidak akan terwujud kecuali dengan adanya ilmu, belajar dan mengajar. Ibnu Hajar telah menjelaskan hadits pertama dari Shahih Bukhari yang berbunyi.

“Artinya : Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya dan seseorang akan mendapatkan apa yang ia niatkan” [HR. Bukhari 1, bersumber dari Umar Bin Khaththab]

Beliau menjelaskan, hadist ini merupakan dalil yang yang menunjukkan bahwa ilmu itu mendahului niat. Kalau engkau tidak mengetahui apa yang akan engkau katakan atau yang akan engkau kerjakan, bagaimana engkau bisa memurnikan dan membedakan niat ? Hal itu dikuatkan dengan firman Alloh :

“Artinya : Ketahuilah bahwa tidak illah yang haq disembah melainkan Alloh, maka mohonlah ampunan bagi dosamu” [Muhammad : 19]

Al–Imam Bukhari menjadikan ayat ini pada salah satu bab dalam kitab Shahihnya. Beliau berkata “Bab Ilmu sebelum berkata dan berbuat”, kemudian beliau mengomentari ayat tersebut : “Maka Alloh Jalla Jalaluhu telah memulai dengan ilmu sebelum berucap dan beramal.”

Berilmulah, wahai saudaraku ! Dan jadikanlah tujuan kalian dalam menuntut ilmu, mencari keridhaan Alloh Jalla Jalaluhu, jujur dan kembali kepadaNya. Janganlah engkau jadikan tujuan menuntut ilmu dalam rangka membantah ulama, menonjolkan diri dalam majelis, bersaing dan pamer kepada khalayak ramai. Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda.

“Arrtinya : Barang siapa menuntut ilmu untuk membodohi orang, atau menantang para ulama, atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka” [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Muqaddimah 253, dan dishahihkan Al–Albani lihat Al–Misykat 225–226 ; bersumber dari sahabat Ibnu Umar Rhadiyallahu ‘anhu]

Hadits ini merupakan peringatan keras bagi orang yang tidak ikhlas dalam menuntut ilmu, serta tujuannya dalam menuntut ilmu tidak dalam rangka mencari keridhoan Alloh Jalla Jalaluhu.

Sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya, bahwa syetan selalu mengintai dan membisikkan kepadamu untuk tidak berbuat ikhlas kepada Alloh Jalla Jalaluhu, maka janganlah engkau menggubrisnya dan upayakanlah dirimu untuk senantiasa ikhlas dalam segala hal, utamanya menuntut ilmu, oleh karena itu teruslah menuntut ilmu !.

Berkata Sufyan Ats–Tsauri : “Dulu kami menuntut ilmu untuk selain Alloh tetapi ilmu itu enggan kecuali hanya untuk Alloh Jalla Jalaluhu.” Maknanya, jiwa itu selalu memiliki tuntutan serta keinginan, terlebih lagi ketika menginjak usia muda dan memasuki usia remaja, jiwa ini memiliki keinginan dan dorongan yang sangat kuat untuk melakukan berbagai macam perkara sesuai dengan kadar kejahilannya, atau ilmu yang dimiliki serta keikhlasan kepada Rabbnya serta keikhlasan kepada Rabbnya serta rasa ittiba’nya kepada Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam. Bag II 

Kalau disebutkan permasalahan ilmu maka harus pula disebutkan tentang pokok dan peringatan–peringatan yang berhubungan dengan masalah ini. Dalam hal ini, ada dua hal yang sangat penting :

[1]. Hendaknya Memiliki Semangat Yang Tinggi Dalam Menuntut Ilmu Dan Istiqomah
Karena kebanyakan manusia menyangka bahwa menuntut ilmu hanya terbatas pada selesainya masa belajar di sekolah, ma’had, universitas, atau markaz selama satu, dua atau lima tahun.

Ini adalah kesalahan yang fatal karena ilmu tidak akan berakhir kecuali dengan hilangnya ruh dari jasad, betapa banyak para salaf mengatakan : “Amat merugi apabila matahari terbit sedang aku tidak menambah ilmu’.

Lihatlah Imam Ahmad, beliau selalu membawa kertas dan pena-nya, kadang kala beliau mengajar, kadang pula belajar. Beliau adalah sosok yang ‘alim, tetapi masih menyempatkan diri untuk belajar pada orang lain. Pada suatu hari beliau membawa barang kebutuhannya, kemudian dikatakan : “Wahai Abu Abdillah, sampai kapankah engkau menuntut ilmu ?” Beliau menjawab : “Menuntut ilmu itu dari buaian sampai masuk ke liang lahat (beliau mengulanginya dua kali)”.

Terus–menerus dan istiqomah karena kebutuhan manusia terhadap ilmu jauh lebih besar dibandingkan kebutuhannya terhadap makanan dan minuman, bisa jadi kebutuhanmu terhadap makanan atau minuman dalam sehari cukup satu atau dua kali. Berbeda dengan kebutuhanmu terhadap ilmu, kadang engkau membutuhkannya sebanyak dua puluh kali, lima puluh kali, bahkan lebih dalam sehari. Di rumah engkau butuh ilmu, di pasar engkau butuh ilmu, bermu’amalah engkau butuh ilmu, bahkan ketika menghadapi musuhmu pun engkau butuh ilmu; semakin berkurangnya ilmu (akan menyebabkan) semakin bertambahnya kebodohan, kejelekan, serta musibah yang akan menimpamu.

[2]. Hendaknya Beradab Dalam Menuntut Ilmu
Ilmu itu butuh adab yang menyertainya dan sopan santun yang menjaganya, perilaku baik yang akan mengangkat derajatnya. Jangan sampai ilmu itu menyebabkan jeleknya adab, kemarahan, kekerasan dan kurang ajar terhadap sesama penuntut ilmu, lebih–lebih seorang murid dengan gurunya. Maka seorang murid wajib untuk beradab terhadap gurunya sekalipun ia mendapatkan kesalahan padanya dan sang murid menyangka bahwa dirinyalah yang benar, meski demikian hendaklah ia tetap menjaga adabnya baik dalam berkata, mengungkapnya dengan bahasa yang halus serta melembutkan perkataannya.

Demikian juga ketika mengkritik guru hendaknya dengan penuh adab sehingga gurunya mau kembali (kalau memang dia benar dan gurunya yang salah) sehingga ia dapat mengambil faedah di antara dua keadaan ini.

Al–Imam Asy–Syafi’i terkadang menjadi guru bagi Imam Ahmad dan di lain waktu beliau menjadi murid Imam Ahmad. Mereka berdua layaknya sahabat yang saling belajar dan mengajar satu dengan lainnya, serta saling mengambil faedah antara keduanya sampai–sampai Imam Syafi’i pernah berkata kepada Imam Ahmad : “Wahai Imam Ahmad, engkau lebih tahu tentang masalah hadits, jika engkau mendapati hadits shahih maka kabarkanlah kepadaku supaya kita mengetahuinya dan bisa mengamalkannya.”

Kadang kala beliau meminta Imam Ahmad agar mengajari beliau, sampai–sampai orang saat itu mengatakan kepada beliau bahwa Imam Ahmad mengunjungimu demikian pula sebaliknya. Kemudian beliau berkata : “Tempatku tidak membedakan kedudukan, jika dia mengunjungiku maka itu merupakan keutamaannya, dan jika aku mengunjunginya itu karena kemuliaannya.”

Inilah adab dalam berilmu yang seharusnya dimiliki oleh para penuntut ilmu sebagaimana yang telah diterapkan oleh para ulama, bukan seperti yang disangka sebagian manusia, padahal mereka baru mendapatkan sebagian ilmu atau baru mempelajari satu bab dari bab–bab ilmu lalu menyangka bahwa mereka telah mendapatkan dan menguasai seluruh ilmu dari awal hingga akhir, padahal merekalah orang yang paling bodoh–wal ‘iyadzu billah–jangan sampai keadaan kita seperti mereka.

Kalau mereka kehilangan adab dalam berilmu, maka lebih dari itu mereka kehilangan sesuatu yang paling penting dari arti sebuah ilmu.

Wahai saudaraku, Semoga Alloh meneguhkanmu, tidakkah engkau mengetahui sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam “Dua hal yang tidak akan berkumpul pada diri seorang munafik, yaitu baiknya adab dan faqih dalam masalah agama.” Tidaklah baik akhlaq ini kecuali dengan baiknya adab, lemah lembut dan sopan santun yang tinggi.

Orang itu kita ukur dari ilmu dan kedudukannya dalam meraih ilmu, dan bila keduanya hilang maka hampir–hampir cahaya ilmu itu lenyap dari dirinya, dan Alloh akan melenyapkan keutamaan ilmu dari dirinya sebagai balasan yang setimpal terhadap perbuatannya karena meremehkan ilmu, meremehkan ahlu ilmi baik dari kalangan sejawatnya, guru–gurunya atau yang lainnya.

Dan aku akan mempermisalkan antara ilmu dan adab sebagaimana keserasian antara ikhlas dan ittiba’. Antara ilmu dan adab bagaikan ruh dan jasad, maka tidak ada ruh kecuali dengan jasad dan dia tidak akan berfungsi kecuali dengan jasad, begitu pula jasad tidak akan bergerak kecuali dengan ruh. Jikalau permasalahan demikian (keterikatan ilmu dan adab) maka perlu kiranya diperhatikan masalah–masalah yang berkaitan dengan dua hal tadi, saya akan memaparkan beberapa contoh:

[a]. Lemah Lembut Dalam Penyampaian
Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda :

“Artinya : Tidaklah sikap lemah lembut ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya dan tidaklah sikap lemah lembut itu dicabut kecuali akan membuatnya menjadi jelek” [Hadits Riwayat. Muslim 2584, Abu Dawud 2477]

“Artinya : Sesungguhnya Alloh Maha Lemah Lembut lagi mencintai kelembutan dan Dia memberikan kelemah lembutan tidak seperti dia memberikan kekasaran” [Hadits Riwayat. Muslim 2593, bersumber dari Aisyah Radhiyallohu ‘anha]

Coba perhatikan kisah Mu’adz bin Jabal Radhiyaallohu ‘anhu tatkala beliau mengimami shalat jama’ah lalu beliau memanjangkan shalatnya yang menyebabkan salah satu makmum keluar, lalu sampailah berita tersebut kepada Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam maka beliau bersabda : “Sungguh ada golongan di antara kalian yang membuat manusia lari.”

Coba amatilah siapa mereka ?? Tidak sangsi lagi mereka adalah sahabat Rasulullah yang paling mulia, paling agung dan paling antusias dalam menapaki sunnah Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam mereka pula orang yang terbaik setelah para nabi dan rasul, lalu bagaimana dengan orang–orang selain mereka??

Oleh karena itu wajib atas para da’i untuk memiliki sikap lemah lembut dalam berdakwah dan memiliki adab baik dalam hal pembicaraan ataupun penyampaian. Jangan sampai tertipu oleh was–was syetan sehingga ia merasa bangga tatkala menggunakan kekerasan, ini semua termasuk tipu daya syetan. Bagaimana tidak ? Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wa salam telah bersabda.

“Artinya : Dan tidaklah seseorang rendah hati karena Alloh akan mengangkat derajatnya” [Hadits Riwayat Muslim 2588, Tirmidzi 2029, Malik 1885, Ash–Shahihah 2328. bersumber dari Abu Hurairah]

[b]. Termasuk Perkara Ilmu (yakni) Masalah Khilafiyah.
Maka selayaknya bagi orang yang berselisih antara satu dengan yang lainya di dasari dengan ilmu (Al–Qur’an dan As–Sunah) dengan di barengi sikap lemah lembut, kasih sayang serta keinginan yang kuat dalam mencari kebenaran.

Alangkah indahnya apa yang telah di contohkan oleh Imam Syafi’i ketika beliau mengatakan :
“Tidaklah aku berdebat dengan seorangpun melainkan aku memohon kepada Alloh untuk menampakan kebenaran pada lisanya (lawan debatku)”

Disebutkan di dalam sebuah kitab, Imam Syafi’i berkata :
Tidaklah aku membantah seorangpun melainkan aku berharap ia di beri petunjuk, hidayah dan di beri pertolongan. [Lihat Faidhul Qadir 3/90 dan Shafwatush Shafwah 2/251]

Mengapa…Karena Rasullulah bersabda :

“Artinya : Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” [Hadits Riwayat Bukhari 13, Muslim 45 bersumber dari sahabat Anas]

Maka tatkala terjadi diskusi ataupun adu argumen dalam masalah fiqhiyah yang masih di perselisihkan di kalangan ulama, tidak selayaknya bagi seseorang di antara mereka mengatakan : “Sayalah yang menang dalam perdebatan ini” yang lain pun mengatakan : “Justru kamulah yang mubtadi’ karena kamu menyelisihi saya dan begitulah seterusnya ; mereka berdebat layaknya pegulat dan petinju yang sedang bertanding, seakan–akan kunci sunnah berada di tanganya dan terbatas pada golonganya.

Ini semua termasuk kebatilan yang sangat nampak dan tipu daya serta kesesatan yang nyata, akan tetapi tatkala perselisihan itu di kembalikan kepada para ulama yang mumpuni dan tahu betul mengenai permasalahan ini dengan detail niscaya akan terselesaikan dengan baik.

Namun lain halnya tatkala seseorang di ajak berdiskusi secara ilmiah, di sampaikan dalil–dalil di sertai sikap lemah lembut dan adab yang baik, tetapi dia masih bersikeras (keras kepala) dan sombong (tidak mau menerima kebenaran) maka ini merupakan pembahasan yang lain dan bukan sekarang waktu yang tepat untuk membahasnya ; karena kita masih dalam fase thalibil dan belum waktunya untuk berdebat, menegakan hujjah, serta membid’ahkan orang lain.

Pembantahan ini tersendiri dan pembahasan yang lain pun tersendiri pula (karena setiap tempat ada pembicaraanya dan setiap pembicaraan ada tempatnya, dengan kata lain proposional atau menempatkan sesuatu pada tempatnya dalam segala hal–pent).

Di antara hal–hal yang sangat disayangkan adalah timbulnya fitnah tabdi’ (memfonis seseorang sebagai ahli bid’ah) dan yang lebih parah lagi adalah munculnya berbagai macam tuduhan yang batil dalam rangka pembelaan dan mengalahkan serta meruntuhkan di dalam permasalahan khilafiyah di antara ahli fiqh pada masa dahulu dan masa kini, sebagaimana yang telah keluar dari lisan–lisan para pemuda yang terlalu bersemangat dan tergesa–gesa tanpa disertai ilmu dan adab serta kelemah lembutan.

Dan termasuk perkara yang paling parah dari hal di atas, timbulnya finah saling menghajr dan mentahdzir antar sesama dan bersikap loyal kepada orang–orang yang sepaham dengan dia berlepas diri terhadap orang–orang yang tidak sepaham dengan dia (dan di antara ucapan mereka sebagai berikut–pent) ; ’kamu jadi temanku jika kamu sepaham denganku, dan apabila tidak maka kamu jadi musuhku, kemudian saya akan terapkan wala’ wal bara’ kepadamu.

Sikap ini semua akibat jeleknya pemahaman, dangkalnya kefaqihan dan jauhnya dari taufiq Alloh.

Alangkah benarnya ucapan seseorang ; Apabila seseorang tidak mendapatkan pertolongan Alloh maka pasti pertama kali dia akan berhukum dengan ijtihadnya semata.

Maka kelompok–kelompok di atas muncul dari ijtihad mereka yang keliru dengan sangkaan itu semua adalah haq, padahal tidak ada benarnya sedikitpun.

Adakah di dalam sirah para ulama dan fuqaha ataupun keterangan–keterangan yang datang dari para ulama yang telah di akui keilmuanya, akan adanya permusuhan, hajr (pemboikotan, red) di dalam masalah fiqh serta permasalahan ilmiah yang lain, yang di situ masih diperselisihkan.

Bukankah umumnya kitab fiqh terdapat berbagai macam pendapat/ lalu mengapa kita jadikan permasalahan fiqh sebagai sarana untuk saling menjauhi, menghina, menghajr di antara kita. Wal’iyadzu billah.

Aduhai, alangkah indahnya jika hajr di barengi dengan hajr yang indah, lemah lembut, (agar ummat bisa mengambil pelajaran) sebagaimana firman Alloh.

“Artinya : ,Dan jauhilah mereka dengan cara yang baik” [Al–Muzzammil : 10]

Akan tetapi, hajr mereka sangat hina, jelek, menakutkan, buruk, kotor.

Dan sangat di sayangkan, hajr mereka di sertai dengan kedustaan, buruk sangka, sikap memecah belah, di sertai pula kebatilan dalam berbagai bentuk yang sangat jelek, seakan–akan pintu taubat, perdamaian, rujuk (kembali kepada alhaq) serta diskusi ilmiah telah tertutup baginya.

Sehingga kita dengar tuduhan mereka : “Kami bid’ahkan kamu ! Dan kami hajr kamu dan tidak ada pintu kembali bagi kamu kecuali kamu itui sama persis seperti kami, bagaikan lembaran foto copy : “Wal–‘iyadzu billah”

Beginikah akhlaqnya ulama ? Seperti inikah adabnya ahlu ilmi ? Jika saudaramu menyelesihi kamu maka berlaku lembutlah kepadanya dan nasehatilah dia serta tempatkanlah dirimu pada tempat yang semestinya.

Maka sekali lagi, apabila engkau berselisih dengan saudaramu maka datangilah dia supaya permasalahan itu menjadi baik, jelas dan gamblang. Akan tetapi, kami tetap berkeinginan keras hendaknya semua itu sesuai dengan kacamata Sunnah dan kami tetap berharap supaya Sunnah tidak dijadikan sarana untuk berpecah belah, saling menghajr, serta bermusuhan yang itu semua kita saksikan, dampak–dampak negatifnya berupa buruk sangka, kurang tabayyun (klarifikasi), perpecahan, berbicara sembarangan ; semua itu adalah sebuah realita yang sangat nampak di tengah masyarakat kita saat ini.

Sungguh sangat disesalkan, kadang kala ada kelompok yang sembilan puluh persen bersama kita, tetapi sepuluh persen bersama kita, tetapi sepuluh persen lainnya merusak. Mereka ingin menang sendiri, sehingga mereka menjauh. Mereka berusaha merusak yang lain, mengajak keluar, ingin mengambil alih kekuasaan yang bukan haknya dan menyuruh manusia agar jauh dari petunjuk, Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Artinya : Katakanlah : “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang–orang yang paling merugi perbuatannya ?” Yaitu orang–orang yang telah sia–sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik–baiknya” [Al–Kahfi: 103–104]

Dan sebagian besar orang–orang yang memiliki sifat ini, jika memang mereka bertauhid, mengikuti Sunnah, dan penuntut ilmu–walaupun mereka menyelisihi dan mencerca–kita tidak menyerang mereka sebagaimana mereka menyerang kita, akan tetapi kita bersabar, mengharap balasan yang terbaik dan mendo ‘akan mereka serta mendekat kepada mereka.
Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Artinya : Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali–kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Alloh, Rabb seru sekalian alam” [Al – Ma’idah : 28]

Ini adalah akhlaq yang mulia dan bimbingan serta adab yang terpuji yang wajib kita miliki untuk mempergauli mereka sehingga mendekatkan kepada kebenaran. Kita tidak membuat mereka lari sebagaimana mereka membuat kita lari. Kita tidak menjauhi mereka sebagaimana mereka menjauhi kita. Kita tidak menuduh (memvonis) mereka sebagai ahli bid’ah sebagaimana mereka memvonis kita. Dan kita tidak menghajr sebagaimana mereka menghajr kita.

Alangkah indahnya wasiat Umar bin Khaththab Radhiyallohu ’anhu dan dengan ini saya menutup nasehat saya untuk pertemuan kali ini dengan perkataan beliau : “Tidak ada balasan yang terbaik bagi orang yang berbuat jelek kepada kamu, melainkan kamu membalasnya dengan hal yang lebih baik dari itu.”

 

Bersambung ke BAG II………………………………

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: